Perjalanan Doa: Bagai Perahu yang Tenggelam di Kaki Langit

Review  
Sumber: @bukurepublika
Sumber: @bukurepublika

“Kau bisa saja menganggap doamu menguap sia-sia, namun sesungguhnya doa itu akan sampai kepada Tuhan,” terang Ayah, saat Alil memintanya menceritakan kisah tentang doa

Ayah membawa Alil ke tepi laut. Mengajaknya mengamati laju perahu yang baru saja meninggalkan bibir pantai; bergerak menjauh, semakin kecil, lalu tampak tenggelam di kaki langit. Lenyap.

Apakah perahu itu benar-benar lenyap? Tidak, karena sesungguhnya perahu itu terus melaju membelah lautan hingga tiba di tempat tujuannya. Ia hanya menghilang dari pandangan yang tak lagi mampu menggapainya.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Begitulah Ayah menggambarkan perjalanan sebuah doa, wujud permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan. Meski tak terlihat, pada akhirnya ia akan sampai kepada-Nya, sebaik-baiknya tempat memohon. Dialah Allah Yang Mahakuasa atas segala yang ada di langit dan di bumi.

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?". (QS. Al-Mulk [67]: 30)

Dan nun jauh, di sebuah daratan yang tak terlihat, sebuah perahu mulai muncul di garis cakrawala; bergerak mendekat, semakin nyata, lalu bersandar di tepian. Orang-orang bersuka-cita menyambutnya. Gambaran atas dikabulkannya sebuah doa, pengharapan yang dinanti-nanti.

Sumber: @bukurepublika
Sumber: @bukurepublika

Kisah menakjubkan ini merupakan penggalan cerita “Perjalanan Doa” yang dinukil dari buku berjudul Gadis Kecil Penjaga Bintang. Memuat 7 kisah tentang doa, buku yang ditulis Wikan Satriati (23 Juni 1975 – 25 April 2021) ini menghadirkan cerita sarat makna yang dirangkai dengan pilihan kata-kata sastrawi yang indah—sebuah ciri khas yang selalu kita dapati di setiap tulisan-tulisannya, termasuk dalam buku Melangkah dengan Bismillah dan Ahmad dan Domba Kecilnya.

Ditulis dengan latar belakang kecintaannya yang besar pada dunia anak-anak dan sastra, buku-buku karya perempuan lulusan magister Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI ini senantiasa mampu menanamkan pemahaman-pemahaman baik kepada pembacanya dengan mengagumkan. Sebagaimana yang dapat kita jumpai melalui kisah Alil dan ayahnya, bahwa tak ada yang menandingi kemuliaan doa, karenanya manusia perlu senantiasa bertawakal kepada Tuhan.

***

Tepat setahun (April 2022) mengenang kepulangannya, doa-doa dilangitkan, semoga melalui tulisan-tulisannya, Wikan Satriati terus dapat menebarkan kehangatan ke semakin banyak hati pembaca, khususnya anak-anak, yang mengalirkan pahala kebaikan pada Allahuyarhamah. Aamiin.

Berita Terkait

Image

Buku Garuda Gaganeswara Masuk Nominasi IBBY International

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Readezvous adalah ajang kumpul para pecinta buku

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Kategori

× Image